PIKIRKAN DAN RENUNGKANLAH

Pernah berpikir nggak tentang bagaimana proses Al-Qur’an bisa berkembang dan berjamur dimana-mana?

Populasi Al-Qur’an yang hampir di seluruh dunia dan di setiap sudut rak-rak toko buku dimana pun, tidak akan sulit untuk kita jumpai.  Dan bahkan tak ada habisnya berkembang dan mengalir secara terus menerus. Itulah yang membuat saya sebagai orang awam berpikir tentang Keagungan kitab Allah yang satu ini.

Bermula ketika saya masih duduk di bangku sekolah Madrasah Aliyah. Saya sangat suka sekali dengan mata pelajaran Al-Qur’an Hadits. Ya, pelajaran yang membahas tentang Keagungan dan Kuasa Allah yang tidak akan bisa dicerna dengan logika seperti mengapa langit bisa berdiri kokoh tanpa tiang. Walalu pun ada beberapa yang bisa dibuktikan dengan logika dan sains seperti penciptaan manusia serta perkembangan janin di rahim.

Ketika aku mempelajari satu ayat yang membahas tentang kemurnia Al-Qur’an yang tidak akan bisa ditiru oleh siapa pun. Di dalam ayat tersebut, Allah memberikan tantangan kepada golongan orang-orang yang ragu dan kafir untuk membuat satu surah yang semisal dengan Al-Qur’an tersebut. Dan  surah yang membahas tentang hal itu ialah Qs. Al-Baqarah: 23. Surah ke 2 setelah Al-Fatihah.

Pernah berpikir tentang salah satu ayat Al-qur’an yang berbunyi: “Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami Turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang beriman.”  (Qs. 2: 23).

Saya pernah berpikir seperti ini; “kalau Al-Qur’an tidak bisa ditiru atau dibuat oleh siapapun, kenapa saya bisa menulisNya. Bahkan saya bisa menulis beberapa surah (Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas). 

Lalu, kenapa Al-Qur’an banyak dijual di pasar dan di took-toko? bahkan di jual ke seluruh negara, kalau memang Ia tidak bisa ditiru dan dibuat oleh manusia?” itulah isi kepala saya saat membahas tentang ayat tersebut. Karena pada waktu itu saya tidak suka bertanya pada guru (segan sama semua guru) dan kebiasaan dikelas saya itu, teman-teman suka kesal jika ada salah satu murid bertanya. Sebab akan menambah jam pelajaran yang seharusnya sudah habis memnjadi bertambah beberapa menit untuk season Tanya jawab. Dan saya paling malas dengan perdebatan.

Akhirnya, pertanyaan yang ada di tempurung kepala saya pun mengendap dan berkerak disana. Pertanyaan itu berhari-hari bahkan berbulan-bulan dan bertahun-tahun di dalam tengkorak kepala saya. Mungkin dia sudah menemukan rumah kontrakan untuk menampung pertanyaan itu di dalam sana. Pertanyaan itu terus saya bawa dalam benak saya dan membuat saya berusaha berpikir untuk bisa menemukan jawabannya. Yang seharusnya, tidak perlu mengendap selama itu jika saya mau menanyakannya pada guru saya. Itulah bodoh dan mindernya saya pada waktu itu.

Tanpa sadar saya mengeluarkan pertanyaan itu disaat lagi ngumpul bersama teman-teman diluar jam sekolah, yang saya tahu meraka tidak ada yang ahli dalam ilmu itu.

“Eh, kalian tahu nggak, kenapa Al-Qur’an bisa dibuat banyak oleh manusia? Bukanya Allah berfirman tidak ada yang bisa membuat semisalnya?”

“Yaa ampun caca, kok bodoh kali sih. Itu dicopy namanya, makanya bisa banyak.” Jawab salah seorang teman saya.

Itulah sebabnya kenapa saya tidak suka mengutarakan pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikiran saya ke siapa pun. Saya tidak siap dengan jawaban orang-orang yang menganggap pertanyaan saya itu hal yang bodoh dan tak bermutu (walaupun terkadang emang iya. Hehehe…). Saya tidak siap dengan anggapan orang-orang yang menilai bahwa akal saya jongkok. Nah, terbuktikan dari jawaban teman saya. Mereka menganggap bahwa pertanyaan itu sangat bodoh, dan yang lebih bodohnya lagi orang yang bertanya. Mindset saya telah terpaku dengan hal-hal seperti itu, dan itu telah menjadikan saya pribadi yang lebih suka mencari jawaban sendniri. 

Dan setelah kejadian itu, semakin dalam pertanyaan itu tertanam didasar kepala saya dan tidak pernah saya utarakan lagi sampai sekarang. Ya, sekarang tahun 2017 dan peristiwa itu sekitar tahun 2008 yang silam. Selama rentang waktu bertahun-tahun itu, hanya satu jawaban yang tersimpan dimemori otak saya, yaitu “dicopy”. Hanya dapat satu jawaban yang tak memuaskan.

Kemudian, tibalah saya pada titik kepuasan akan pertanyaan yang telah berkerak didasar otak saya. Tanpa sadar saya menemukan jawabannya disaat saya mendalami Al-Qur’an di Rumah Qur’an BMC Batam. Ya, tempat dimana saya belajar Al-Qur’an dan bahkan bukan hanya sekedar belajar, tetapi mentadaburi, menghafalnya dan mengamalkannya Insya Allah. Ayat demi ayat saya hafalkan dan saya cermati artinya. Walaupun terkadang hal itu menambah pertanyaan-pertanyaan baru dalam benak saya. Memang pertanyaan yang lalu itu telah terjawab, tetapi timbul pertanyaan baru menjamur pula.

Saya temukan jawaban saya sendiri atas Keagungan Sang Maha Pemberi Tahu.

“Kalau Al-Qur’an tidak bisa ditiru atau dibuat oleh siapapun, kenapa saya bisa menulisNya. Bahkan saya bisa menulis satu surah (Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas). Lalu, kenapa Al-Qur’an banyak dijual di pasar dan di took-toko? bahkan di jual ke seluruh negara, kalau memang Ia tidak bisa ditiru dan dibuat oleh manusia?”

Pertanyaan diatas akan saya jawab satu per satu.

  • Pertanyaan pertaman; kenapa saya bisa menulisNya. Bahkan saya bisa menulis beberapa surah (Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas)?
Jawabannya saya temukan dalam Al-Qur’an pula. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an surah Al-Baqarah ayat 75 yang artinya “Maka apakah kamu (Muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar Firman Allah, lalu mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya.[1]”

Ayat selanjutnya Qs. Al-Baqarah: 79 yang artinya “Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata “ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk menjual dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.[2]”

Dari arti ayat tersebut, saya berpikir. Saya menulis hanya memindahkan dan mencontek apa yang ada di Al-Qur’an, sedangkan maksud surah ke 2 ayat 75 dan 79 ialah orang-orang yang mengubah atau membuat ayat lain untuk mengelabui orang-orang yang tidak tahu agar berpaling dari ajaran Allah. Nah, ayat itulah yang  telah menjawab pertanyaan saya. Lalu saya menyimpulkan sendiri mengenai ayat 23 (ayat diatas) tersebut, tantangan itu Allah tujukan untuk orang-orang kafir yang ingin membuat kitab yang sesuai dengan aturan dan kemauan mereka sendiri. Mereka menyembunyikan ayat-ayat yang tidak mereka sukai atau sekiranya akan membuat mereka rugi.

Nah, jadi kesimpulan yang saya simpulkan sendiri ialah tantangan yang Allah cantumkan di ayat 23 itu untuk mereka yang mengubah isi kitab Taurta dan Al-Qur’an, lalu mereka menggantikannya dengan bahasa dan aturan yang disukai. Mereka yang tidak suka dengan aturan Allah atau kabar-kabar yang akan datang sesudah mereka (seperti kedatangan Rasulullah Saw).  

  • Pertanyaan kedua; kenapa Al-Qur’an banyak dijual di pasar dan di took-toko? bahkan di jual ke seluruh negara, kalau memang Ia tidak bisa ditiru dan dibuat oleh manusia?
Jawabannya: pertanyaan diatas sebenarnya sudah terjawab oleh teman saya, “dicopy” katanya. Jawaban itu cukup sih, tapi muncul argument dalam benak saya lagi. “prosesnya bagaimana?” kemudian tanpa disengaja saya menonton acara di televisi yang berjudul “Berita Islam Masa Kini”. Kebetulan stasiun tivi tersebut sedang menyiarkan berita tentang kota Mekkah. Lalu saya dengan antusias mendengarkan dan mencermati informasi mengenai tempat-tempat bersejarah dan kebiasaan yang ada disana.

Kemudian tibalah reporter itu melaporkan hasil laporannya mengenai salah satu pabrik terbesar yang tersembunyi dan tidak banyak diketahui oleh orang-orang disana apa yang diproduksi didalamnya. Dan ternyata, pabrik tersebut memproduksi Al-Qur’an. Subhanallah… saya benar-benar takjub melihat bagaimana proses percetakan AL-Qur’an dengan berbagai ukuran, tulisan dan bentuk yang sedang berjalan disana. Dan yang lebih dahsyatnya lagi, mereka memproduksi Al-qur’an dengan jumlah ribuan bahkan hampir jutaan, dan itu hanya dibagi-bagikan secara gratis ke semua orang yang sedang menunaikan haji tiap tahunnya dan ke berbagai Negara.

Nah, timbullah pertanyaan berikutnya dibenak saya. Apa pabrik itu tidak bangkrut memberikan hasil produksi mereka secara gratis? Dan bagaimana mereka menggaji kariyawan pabrik tersebut? Bagaimana income dari hasil produksi mereka? Dan jawabannya ialah Kuasa Allah yang tak dapat dicerna oleh pikiran semata, melainkan harus diimani.

SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAA ILAHAILLALLAH ALLAHUAKBAR LAA HAULA WALAA QUWATA ILLAABILLAHIL‘ALI’IL ‘ADZIIM…

Terjawablah semua apa yang selama ini saya tanyakan dalam hati dan pikiran saya. 
Semoga apa yang saya tulis bermanfaat dan mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang salah dan tidak seharusnya ada.

________________________________________
[1] Yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi di Madinah yang mengubah-ubah isi Taurat terutama mengenai Nabi Muhammad Saw
kepentingan dan keuntungan 

0 Response to "PIKIRKAN DAN RENUNGKANLAH"

Post a Comment

silahkan memberikan masukan dan tanggapan yang sopan ya guys

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel