BAB I BUTIRAN HATI

Ini salah satu keinginanku. Di mana di dalamya ada perjuangan, pengorbanan, kerja keras, kekompakan, persahabatan, suka, duka, kebersamaan, pengalaman, dan kekeluargaan. Semua berbaur dalam proses saat mencapai mimpi dan cita-cita. 

Tentu saja semua orang memiliki cita-cita. Tak terkecuali aku. Meski dahulu aku tidak tahu bagaimana cara untuk meraihnya. 

Namun, kala itu aku hanya mengagumi dua profesi yang kuketahui dari penjelasan guruku. Yaitu Dokter dan Polisi. 

Jikalau bercita-cita ingin jadi dokter, tentunya akan bertugas mengobati orang sakit. Dan polisi bertugas memberi perlindungan dan rasa aman bagi negara dan masyarakat. 

Ya, awalnya aku hanya mengagumi dua profesi itu dan mencantumkan salah satunya di alam bawah sadarku —mimpi. 

Lantas, saat aku duduk di kelas 6 SD. Aku melihat satu guru yang sangat bersahaja dan baik hati —sebab, guru Matematika-ku dulu sangat garang— sehingga saat melihat guru Agamaku ini, aku langsung jatuh hati pada beliau. 


Setelah itu aku berpikir, bukankah ‘guru’ bisa membuat orang menjadi pintar dan tanpa guru semua orang tidak bisa belajar. Secuil pemikiran itu berhasil mengalihkan cita-citaku. 

Lalu berikrar “aku ingin jadi Guru.” 

Kemantapan itu muncul, sebab Guru Agamaku kala itu berhasil membuka mataku, bahwa profesi mulia itu adalah GURU. Nama beliau adalah Bu Absah. 

Alhamdulillah, Allah menakdirkan itu sekarang. Meski tak bertahan lama menjadi guru, setidaknya aku pernah berada di posisi itu. Aku jadi tahu bagaimana rasanya menjadi guru dan itu membuatku merasa bersalah kepada guru-guruku dahulu atas sikap nakal yang kulakukan saat menjadi seorang murid. 

Menjadi Guru adalah cita-citaku dulu. Dan menurutku, cita-cita itu tidak harus selamanya berkutat di bidang yang sama. Meski hanya dalam hitungan beberapa tahun menjalaninya, setidaknya aku pernah merasakan cita-cita yang dulu aku khayalkan. Itu artinya aku sudah mewujudkan mimpiku, bukan(?) 

Menjadi seorang Guru. Artinya kita akan mengajarkan suatu ilmu kepada orang lain. 

Mengajar artinya kita berbagi ilmu atau memberikan ilmu yang kita ketahui. Bukan mengajarkan ilmu yang kita miliki. Sebab, ilmu itu sejatinya milik Allah SWT. 

Sungguh benarlah janji-Nya, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. 

Pantas saja jikalau ada pepatah mengatakan “GURU TANPA TANDA JASA.” 

Setuju kah??? 

Ya. Aku setuju. Meski semua murid-muridnya telah menjadi orang sukses dan berlimpah kekayaan. Namun ia tetap sederhana dan tak pernah meminta imbalan dari muridnya yang sudah berjaya itu, bukan(?) 

Itu lah seorang guru. Yang telah mengajarkan baca dan tulis, saat kita belum mengenal angka dan huruf. Hingga menghantarkan kita pada pintu kesuksesan dan cita-cita masing-masing. Bahkan, seorang murid yang dulu diajar oleh guru, kini lebih tinggi derajatnya dari sang Guru. Yaitu presiden. 

Itulah mengapa aku ingin bercita-cita seperti itu. Guru itu mulia. Tanpa Guru, semua peradaban tidak akan ada. 

Selama proses meraih mimpi itu, tak jarang nasehat-nasehat berdatangan membanjiri ruang otakku. Dan aku bersyukur, dengan begitu aku jadi lebih mengetahui dan berbenah diri. 

Beberapa diantaranya berpesan padaku. 

“Kalau untuk mencari uang banyak (kekayaan) jangan jadi guru.” 

“Pendidikan itu jangan dijadikan ladang politik atau perdagangan.” 

“Ilmu itu kan dari Allah. Allah saja ngasi ke kita gratis, kenapa kita harus pamrih atau minta balasan.” 

Pesan-pesan itu tertanam baik di kepalaku. Menjadikanku sadar, betapa buruknya aku sebagai guru. 

Selain itu, jika dilihat dari sisi Agama. Guru adalah ladang ibadah. Profesi yang akan terus mendapatkan pahala setelah wafat —amal jariyah— saat ilmu yang kita ajarkan kepada mereka, kelak diamalkan dan diajarkan kembali dikemudin hari. 

Lantas, apakah kita sudah ikhlas memberikan dan mengajarkan ilmu tersebut kepada mereka? Ketika kita mengharapkan dan menunggu2 gaji setiap bulannya. Maka, apakah itu bisa dikatakan “Guru Tanpa Tanda Jasa?” 

Lantas, mengeluh dengan tingkah laku anak-anak, mendumel dengan tugas-tugas RPP/Silabus, Prota, Prosem dsb. Lalu protes dengan gaji yang didapat tak sebanding dengan kinerja. —Jujur, itu yang aku alami— Allahu’alam bagi yang lain. 

Maka, apakah itu bisa dikatakan ikhlas? 

Keluhan-keluhan itu lah yang membuatku tak layak disebut sebagai guru. Jujur, aku butuh uang. Lalu tugas RPP, aku rasa tidak terlalu penting. Sebab, seorang guru tentu tahu tugasnya. Bukankah ‘rencana’ tak sejalan dengan peraktik di lapangan (?) Dan menurutku, laporan tumbuh kembangan anak itu sudah cukup. Atau evaluasi kemampuan anak sudah cukup bagus. Yang terpenting adalah membentuk karakter dan akhlak peserta didik. Menanamkan nilai agama dan budi pekerti yang baik. Seharusnya guru itu fokus pada tumbuh kembang akhlak si anak, bukan sibuk mengerjakan Rpp/Silabus/Prota/Prosem. Oke lah, kalau gurunya masih single. Lantas bagaimana yang double/triple. Kasian dong di bebani dengan tugas-tugas itu (+) dengan tingkah laku si murid (?). 


**berharap tugas guru lebih fokus sebagai pendidik, bukan sebagai pentransfer ilmu saja dan tugas guru lebih dikurangi dengan aturan membuat RPP/SILABUS/PROTA/PROSEM. Mungkin bisa di ganti dengan laporan tiap bulan, hasil perkembangan motorik, psikologi, akhlaknya dan seterusnya. Lalu di diskusikan dengan wali murid dalam rapat pertemuan bulanan/ lebih. Mungkin ini lebih memfokuskan guru dengan tumbuh kembang si peserta didik. 



Langkat, 12 Maret 2018 

Post in Penang, Malaysia 

0 Response to "BAB I BUTIRAN HATI"

Post a Comment

silahkan memberikan masukan dan tanggapan yang sopan ya guys

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel