BUTIRAN HATI || Lanjut==> Part II

Balik ke pertanyaan semula. 

Apakah kita sudah ikhlas menjadi guru? Jikalau keluhan-keluhan itu terus ada di hati (?). Lantas, apakah masih bisa disebut “GURU TANPA TANDA JASA?” Padahal kita pamrih atas apa yang kita kerjakan —berharap gaji, misalnya(?) kemudian, apakah itu akan jadi amal jariyah, ketika kita wafat kelak. Padahal, Allah telah membalas kebaikan kita dengan fasilitas —uang— untuk kita nikmati sekarang. 

Allahu’alam bagi yang lain. 

Yang jelas, itulah gumpalan pertanyaan yang ada pada diri ini, saat aku berprofesi sebagai guru. Dan aku merasa tak layak. 

Aku masih mengeluh dengan seabrek tugas yang terus kubawa setiap hari —dalam pikiran dan di rumah (PR). Dan Aku masih pamrih atas keringat yang keluar tak sebanding dengan upah. Menganggap sebagai ladang pahala —amal jariyah, padahal Allah telah menggantinya dengan uang. 

Aku pernah dengar —hadits/bukan— aku lupa. Mengatakan “Jika kamu mengharapkan kesuksesan di dunia bersama Al-qur’an, maka Allah akan penuhi. Tetapi kamu tidak akan mendapatkannya di akhirat kelak.” 

Begitupun dengan perbuatan kita. Jika Allah sudah membalasnya di dunia, maka tidak akan ada lagi yang Allah berikan utk kita di sana. 

“Berarti Allah pelit dong.” (Mungkin ada yg berfikir seperti itu) Bukan pelit. Analoginya seperti ini, jika orangtua kamu sudah memberikan semua uang jajanmu selama sebulan utk hari ini, lalu kamu habiskan. Nah, apakah besoknya kamu akan mendapatkannya lagi? (Silahkan jawab sendiri) 

Kemudian untuk penjelasan “Allah saja memberikan ilmu-Nya kepada kita secara gratis. Lalu, kenapa kita harus membayar uang spp, ini dan itu(?).” 

Setuju tidak jika ilmu itu dari Allah dan gratis??? 

Aku, iya.! 

Aku menyadari ketika aku mengajar di salah satu Sekolah Tahfidz. Di sana hanya menargetkan anak hafal Al-qur’an (terutama juz 30) selama satu tahun. Dan Alhamdulillah, saat aku diamanahi untuk membimbing anak-anak —usia 3,5-7 thn— yang sungguh luar biasa itu. Dan Alhamdulillah, aku sudah punya tabungan hafalan. 

Nah, aku sadar, kemampuan (hafalanku) pada saat itu bukanlah karena aku bersekolah tinggi (di Universitas ternama), melainkan aku belajar gratis dari Allah, hanya saja di wadahi oleh seorang dokter dermawan bernama dokter Adrianti —biasa disapa dr. Aad. Beliau mewadahi kami belajar Al-qur’an di asramanya secara gratis. Dan Allah lah yang telah memudahkanku mempelajarinya. 

Apakah aku dapat gaji dari mengajar Al-qur’an itu? 

Ya.! 
Aku dapat gaji, tapi pihak yayasan mengatakan bahwa itu bukan gaji untuk ilmu Al-qur’anku, tetapi infaq untuk kebutuhan sehari-hari dan transportku. 

Jadi anak-anak di sana menyebut pembayaran itu infaq. Ya, seharusnya infaq itu sesuatu pemberian yang ikhlas tanpa ditentukan nominalnya. Kata temanku, lebih baik menggunakan kata ‘iuran’. 

Dia benar. 
Tetapi terkadang, kalau tidak ditentukan akan ada yang kurang adil nantinya. 
Dari sana lah aku belajar. Bahwa ada cara halus yang perlu dikembangkan. 

Mungkin ada yang berpikir “kami kan sekolah dan kuliah mengeluarkan biayanya mahal. Kami belajar bayar. Ya saat jadi guru, muridnya juga harus bayar dong.” 

Benar. Proses belajar kita juga mengeluarkan uang. Kita mendapatkan ilmu di bangku sekolah hingga ke perguruan tinggi juga mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Namun, itu sejatinya bukanlah membayar ilmu yang kita pelajari. Melainkan perdagangan yang terjadi disana. Ada praktik dagang yang membuat kita mengeluarkan uang. 

Salah satu contohnya ialah ketika ada seorang guru memanfaatkan keadaan demi merauk keuntungan (keperluan) pribadi atau mungkin telah berkoordinasi dengan pihak lain (bekerjasama) —entah lah— untuk mendapatkan uang dari siswa-siswanya. Maka, guru tersebut mewajibkan membayar iuran untuk keperluan (kebutuhan) proses belajar dalam pelajaran olahraga, misalnya. Padahal murid yg telah membayar iuran itu tidak mendapatkan pelajaran yang seharusnya mereka dapatkan setelah membayar iuran tersebut, tetapi hanya diberi nilai karena sudah membayar iuran olahraga tersebut. Mereka telah diajarkan membeli nilai tanpa proses. Hanya membayar iuran untuk praktek olahraga tersebut, padahal tak pernah dipelajari. Membayar tanpa menerima hak mereka. Miris sekali. 

Allahu’alam apa tujuannya. Tapi itu pengakuan salah satu murid dari guru tersebut. 

Ironi bukan? Layakkah itu sebagai guru? Seharusnya, demi pendidikan yang bermutu. Haruslah ada keterbukaan dan kejujuran. Terbuka tentang apa saja yang diperlukan demi keberlangsungan belajar mengajar. Dan jujur terhadap mekanisme pengelolaan baik berupa uang masuk dan keluar. Semuanya berawal dari cara seorang guru mendidik, mengajar, dan mengelola. 

Jadi, sebenanrnya ilmu (sekolah) kita itu tidaklah mahal. Tetapi praktik dagang demi keuntungan kantong sejumlah oknum membuat para peserta didik perlu mengeluarkan uang. 

Masihkah kita berharap, menjadi seorang guru kelak akan mendapatkan pahala jariyah? 

Bagi oknum guru yang tak mampu berdedikasi dibidang mulia ini, janganlah mengotori profesi guru karena ulahmu yang akan merusak citra guru ‘baik’ di seluruh dunia. Jika engkau masih ingin diranah ini juga, maka belajarlah kembali bagaimana guru semestinya. 

Dan sangat ironinya lagi, ada oknum guru yang tidak punya hati. Sehingga ia tega melakukan tindakan asusila (pelecehan sekaual) kepada muridnya. 

Entah lah. Aku tidak habis pikir dengan oknum yang merusak citra guru dengan perlakuan rendah seperti itu. 
“Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” 
Masih membahas tentang ‘keguruan’. Mengapa? Karena aku ingin menekankan bahwa, profesi ini sangat mulia dan tinggi derajatnya dari profesi apa pun. Dan karena aku menyadari kedudukan profesi ini, makanya aku mundur. Sebab aku merasa tak layak. 

Nasehat itu begitu mendalam bagiku
  • Kalau ingin cari kekayaan, jangan jadi guru.
  • Jangan jadikan pedidikan itu sebagai ladang politik dan perdagangan.
  • Allah saja memberikan ilmunya ke kita dengan gratis, lantas mengapa kita pamrih.
Mungkin setelah tulisan yang tidak bermutu ini dibaca, menganggap aku ‘sok suci’ atau hal negatif lainnya. 

Terserah. 
Sebab, aku memang tak mampu menjalani profesi ini. Lantas kenapa dulu mau kuliah di jurusan pendidikan? 

Pada dasarnya aku suka dengan dunia pendidikan. Tapi tidak untuk saat ini. Karena aku belum bisa berdamai dengan aturan pemerintah yang mengharuskan guru mengerjakan Rpp/Silabus (+) dengan K13 dan teman-temannya. Dan gaji guru yang belum bisa dikatakan mencukupi kebutuhan —mungkin di beberapa daerah. 

Buat apa bekerja di ranah yang mulia ini tetapi hati terus protes. Lebih baik aku mundur. Ya kan?? 

Entah lah. Apakah ada yang setuju denganku atau tidak. Tapi ini lah aku. Semoga generasi guru berikutnya lebih bermutu dan berkualitas. Tidak sepertiku yang hanya suka mengajar dengan aturan sendiri dan metode sendiri. 

Dan semoga aku bisa membuka sekolah untuk mereka yang mau belajar Al-qur’an —ilmu pasti— bukan matematika. 


Langkat, 12 Maret 2018 

Editing in Malaysia, 31 Mei 2018 

Bandar Cassia 

0 Response to "BUTIRAN HATI || Lanjut==> Part II "

Post a Comment

silahkan memberikan masukan dan tanggapan yang sopan ya guys

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel