WANITA HEBAT; IBU MUSA



“Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, ‘Susuilah dia (Musa) dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sugai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” (Qs. Al-Qashsash: 7)



Nabi Musa dilahirkan pada masa kejayaan Fir’aun. Raja kejam yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Dalam riwayat menuturkan; Fir’aun mengalami mimpi yang membuatnya ketakutan. Ia kemudian memanggil para dukun, tukang sihir, ahli nujum, dan ahli tafsir mimpi, Fir’aun kemudian menanyakan kepada mereka perihal takwil mimpinya. Mereka berkata, “Di kalangan Bani Israil akan melahirkan seorang anak yang akan merampas kerajaanmu, mengalahkan kekuasaanmu, mengusirmu dan juga kaummu dari bumimu, serta mengganti agamamu. Zaman kelahiran anak itu sudah tiba.

Amarah dan kecemasan Fir’aun memuncak. Ia pun memerintahkan untuk membunuh setiap bayi lelaki yang dilahirkan di kalangan Bani Israil. Untuk tujuan ini, Fir’aun mengirimkan banyak bidan ke berbagai penjuru kerajaannya dan prajurit untuk membunuh seluruh bayi laki-laki yang lahir pada masa itu. Saat itulah Musa dilahirkan secara sembunyi-sembunyi.

Setelah Fir’aun membunuh tujuh puluh ribu bayi lelaki demi mencari bayi yang dimaksud dalam mimpinya. Saat itu ibu Musa dicekam kecemasan dan rasa takut, sedangkan bidan yang menanganinya merasa iba padanya, sehingga ia berjanji untuk menutupi kelahiran Musa.

Namun sayang, tentara Fir’aun yang dikirim keselulruh penjuru mengetahui gerak-gerik bidan yang membantu proses kelahiran Musa. Meski rasa takut dan khawatir menyelimuti ibu Musa, Allah tentu tidak akan membiarkan situasi demikian, lalu Allah ilhamkan kepada ibu Musa untuk menyembunyikan Musa ke dalam tungku perapian dengan dibaluti kain.

Karena rancangan Allah, tentara Fir’aun tidak mendapati apapun di rumah ibu Musa, dan atas izin Allah, Musa selamat dari bala tentara Fir’aun serta tidak menderita apapun setelah bersembunyi di tungku perapian.

Atas peristiwa tersebut, ibu Musa merasa anaknya tidak akan bisa hidup nyaman dan terus menerus disembunyikan keberadaanya. Lalu ditengah kesedihan beliau, Allah mengilhamkan kepadanya,

“(Yaitu), letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkkanlah dia ke sungai (Nil), maka biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil okeh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya.” (Qs. Thaha: 39).

Demikian ilham itu beliau peroleh, lalu ibu Musa segera melakukan apa yang telah di ilhamkan kepadanya. Sebelum meletakkan Musa di dalam peti, sebelum itu ibu Musa menyusuinya hingga kenyang dan kemudian menutup rapat peti itu, kemudian dengan rasa sedih ia menghanyutkan anaknya ke sungai Nil, hingga arus membawanya pergi jauh tanpa terlihat lagi oleh ibu Musa.

Sampailah pada hari dimana peti itu sampai di tepi sungai yang mengarah pada taman kerajaan Fir’aun, tempat selir-selir Fir’aun biasa mengambil air. Kemudian selir-selir itu membawa peti tersebut untuk diserahkan kepada istir Fir’aun, Asiyah. Yang mereka pikir peti itu adalah harta karun.

Namun, setelah peti itu dibuka, ternyaat ada seorang bayi laki-laki tampan yang membuat hati istri Fir’aun langsung jatuh cinta dan merasa sayang padanya. Karena Asiyah tidak memiliki anak, maka betapa bahagianya ia ketika itu dan berfikir, “Ini adalah pemberian langit untuknya.”

Karena keberadaan bayi laki-laki itu masih mengancam kedudukan Fir’aun, maka Fir’aun memerintahkan algojo untuk mengambil anak itu. namun Asiyah terus mempertahankan bayi itu dan berkata pada algojo suruhan suaminya, “Bubarlah kalian semua, karena bayi ini tidak akn menambah banyak jumlah Bani Israil.”

Lalu berkata kembali untuk meyakinkan prajurit Fir’aun;

“Biarkan aku saja yang mengurus bayi ini. Aku sendiri yang akan membawanya ke hadapan Fir’aun, dan akan memintanya untuk memberikan bayi ini padaku. Jika memang Fir’aun bersedia menyerahkan bayi itu padaku, berarti kalian telah melakukan tugas dengan baik. Dan jika Fir’aun memerintahkan kalian untuk menyembelihnya, aku tidak akan menyalahkan kalian.”

Asiyah pun datang menemui Fir’aun dan mengajukan permohonan kepadanya seraya berkata;

“(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahhan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak.” (Qs. Al-Qashash: 9)

Fir’aun menjawab, “Dia adalah penyejuk mata bagimu. Sementara aku tidaklah memerlukannya.”

Awalnya Fir’aun ingin mengizinkan istrinya merawat bayi tersebut, namun, tidak lama setelah itu, Fir’aun berubah pikiran dan berkata, “Tidak, tapi bayi itu harus disembelih karena aku khawatir jangan-jangan bayi ini dari kalangan Bani Israil, dan dialah yang akan membinasakan kita dan menghancurkan kerajaan kita.”

Istri Fir’aun terus meyakinkan suaminya dan memohon untuk tidak membunuh bayi itu, sampai pada akhirnya Fir’aun mengizinkan bayi itu tinggal bersama Asiyah, istri Fir’aun.

Sementara itu, ibu Musa masih merasa cemas dengan keadaan anaknya. Dalam surat Al-Qashash, ayat 11 Allah menceritakan;

“Dan dia (ibu Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, ‘ikutilah dia (Musa).’ Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya.”

Lalu sampailah saudari Musa pada taman istana kerajaan Fir’aun dan mendengar bahwa permaisuri mengadobsi bayi itu, namun bayi itu tidak mau menyusu dengan wanita mana pun.

Saudari Musa lalu memberanikan masuk ke istana dengan hati-hati dan kewaspadaan, hingga ia melihat selir-sellir Fir’aun pergi untuk mencari wanita penyusu untuk adiknya. Saat itulah ia memberikan saran kepada mereka untuk menawarkan wanita yang pasti dapat menyusui bayi itu dan bayi itu pasti akan menyusu kepadanya.

Setelah berhasil membujuk orang-orang di istana untuk mengikuti sarannya, akhirnya para selir-selir itu membawa bayi itu ke rumah ibu Musa.

Bahagianya ia dapat melihat anaknya kembali. Dan untuk menutupi kebahagiaannya ia harus bersikap biasa agar para orang-orang kerajaan tidak mencurigai mereka. Maka ibu Musa bersikap tenang, sambil menahan rasa bahagianya.

Kisah itu tertuang pada ayat AL-qur’an surat Al-Qashash: 7-14

“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir erhadapnya, maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan emnjadikannya salah seorang rasul. ‘Maka dia dipungut oleh kelurga Fir’aun afar (kelak) dia menjadikan musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh Fir’aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan istri Fir’aun berkata, ‘(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,’ sedang mereka tidak menyadari. Dan hati ibu Musa menjadi kosong, sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah). Dan dia (ibu Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, ‘Ikutilah dia (Musa). ‘Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarnya. Dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah dia (saudaranya Musa), ‘Maukah aku tujukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?’ Maka kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak besedih hati, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya. Kami anugrahkan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Dan tertuang dalam firmanNya dalam surat Thaha: 36-40

“Dia (Allah) berfirman, ‘sunggung, te;aj diperkenankan permintaanmu, wahai Musa! Dan sungguh, Kami telah memberikan nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain (sebellum ini), (yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan, (yaitu), letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil), maka biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil okeh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku. (yaitu) ketika saudara perempuanmu berjalan, lalu berkata (kepada keluarga Fir’’aun), ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?’ maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, gar sendang hatinya dan tidak bersedih hati. Dan engkau pernah membunuh seseorang, lalu kami selamatkan engkau dari kesulitan (yang besar) dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat); lalu engkau tinggal beberapa tahun di antara pennduduk Madyan, kemudian engkau, wahai Musa, datang menurut waktu yang di tetapkan.”


Begitulah kisah yang tertulis di dalam Al-qur’an tentang kisah Nabi Musa A.S.
Sekolah Cahaya Di Atas Cahaya, Batam.

Akan tetapi, di sini saya membahas seorang wanita yang melahirkan Nabi Musa, yang merelakan berpisah dengan anaknya demi menyelamatkan buah hatinya. Dan begitulah pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Ia rela menahan rasa sakit di hatinya, asalkan anaknya hidup selamat, nyaman dan tenang.

Dan tentu semua orang tua akan melakukan apa pun demi kebahagian anaknya, serta mengorbankan apa pun bagi buah hatinya.

 
Yuk! Sayangi ibu kita.
Semoga Allah limpahkan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk kedua orangtua kita semua.
Aamiin.............

Di ambil dari buku; Biografi Istri dan Putri Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. 
Penulis; Dr. Aisyah Abdurrahman

Penang, 26 April 2019.

0 Response to "WANITA HEBAT; IBU MUSA"

Post a Comment

silahkan beri masukan dan tambahan untuk saling berbagi kebaikan.
Jazakumullah khair...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel