REEM [BOOK REVIEW]

Apakah maut dan desing peluru ini akan mematahkan cintamu?
Based on true story

"Untuk anak-anak di penjuru dunia, berbahagialah
Ketika perang bukan menjadi keseharian kalian
Tidak seperti kami, anak-anak Palestina
Buku kami bertabur debu mesiu
Pena kami dipatahkan butir peluru
Lagu kebangsaan kami dinyanyikan dari dalam penjara tak berpintu

Untuk kalian, anak-anak dunia
Berdoalah bagi kami anak-anak Palestina
Meski kami tidak berayah, tidak beribu
Kami hidup dalam persaudaraan dan semangat juang
Meski pada akhirnya, kami berbaring di tanah liang 
Jangan menangis dikuburan kami!
Sebab kami tidak mati.”

Sebait puisi itu membuat saya merinding dan terbayang perjuangan para anak-anak Palestina di sana. Seketika mata saya basah.

Reem, sebuah novel berdasarkan kisah nyata. Ditulis oleh seorang bernama Sinta Yudisia. Nama yang baru mampir didaftar buku bacaan saya.

Awal mula melirik buku ini disebabkan oleh postingan teman baik saya di feed IGnya. Dan saya memintanya untuk memesankan buku yang sama untuk masuk ke dalam list bacaan saya.

Buku ini menceritakan kisah perjuangan gadis Palestina-Indonesia bernama Reem Radhwa dan seorang pemuda bernama Kasim, mahasiswa asal Indonesia yang sedang menumpuh pendidikan di Maroko bersama Alya, adiknya.

Reem memiliki kedua orang tua yang mengabdikan hidup mereka untuk menjadi relawan di perbatasan Palestina sebagai tenaga medis. Hingga akhirnya ia melihat Umminya berlumuran darah dan mati syahid di tanah Gaza, ketika ia masih kecil. Lalu Babanya melanjutkan perjuangan Ummi dan menetap di Gaza, sedangkan Reem dibawa oleh Bibi Aisyah ke Maroko.

Di Maroko, Reem melanjutkan kehidupan bersama Bibi Aisyah. Di sebuah aksi damai, Reem membacakan puisinya di halayak ramai dan di sanalah ia bertemu dengan Kasim.

Kasim tidak sengaja membidik Reem yang tengah berorasi. Hingga akhirnya mereka dekat dan menjadi sahabat. Lantaran Kasim membutuhkan Reem sebagai objek penelitian tesisnya tentang anak-anak Palestina.

Kedekatan Kasim ditentang oleh keluarga Reem, sebab Kasim membuat kenangan buruk yang telah disimpan Reem rapat-rapat, mulai terbuka kembali. Dan Bibi Aisyah tidak ingin Reem sedih.

Saya pikir, kisah mereka akan bersatu, ternyata Kasim dan Reem terpisahkan oleh Negara. Kasim kembali ke Indonesia setelah lulus kuliah, namun sebelum meninggalkan Reem, ia berjanji untuk kembali dan menjadikan Reem sebagai istri.

Pada kenyataannya, setelah ia kembali bersama adiknya, Alya, yang dipaksa ayahnya untuk ikut pulang bersama Kasim meski Alya belum selesai belajar. Dan kepulangan mereka yang telah direncanakan ayah mereka, membuat perubahan rencana hidup Kasim.

Kasim dan Alya menikah atas kemauan ayah dan ibu mereka.

Kok bisa???

Saat membaca di bab ini, saya teringat film Malaysia. Yang awalnya hidup serumah sebagai kakak adik, ternyata salah satu dari mereka anak angkat. Tapi lucunya, di buku ini menceritakan bahwa Kasim dan Alya tinggal serumah (asrama) selama kuliah di Maroko (tanpa pengawasan ayah ibu mereka).

Memang sih, pada bagian lain dikisahkan ayah dan ibunya merasa berdosa sekali membiarkan mereka serumah. Lalu memutuskan untuk menikahkan mereka dengan alasan tidak ingin perusahaan ayah jatuh ke orang yang tidak tepat (suami Alya nantinya).

Singkat cerita, Alya merasa tidak bahagia. Kasim tidak bersikap sebagai suami seperti yang diinginkannya. Dan pada akhirnya Alya meminta cerai dari Kasim, agar Kakaknya bisa menemui Reem, gadis impian kakaknya, yang ia tahu Kasim sangat mencintai Reem.

Sementara Kasim di Indonesia, Reem tidak pernah tahu kabar Kasim, bahkan soal pernikahan mereka. Justru selama Kasim di sana, Reem berjuang melawan penyakitnya, yang divonis sulit untuk bertahan hidup.

Walaupun begitu, Reem tetap bertahan dan berusaha kuat melawan penyakitnya. Kemudian dia memutuskan untuk menjadi relawan di Palestina. Dan saat Kasim kembali menemui Bibi Aisyah, ia tak mendapati Reem di sana. Akhirnya Kasim pun berkesempatan menjadi relawan di Palestina juga.

Akhirnya mereka dipertemukan di jalur Gaza, dan berencana melangsungkan pernikahan sederhana di tenda pengungsian. Kasim dan teman-teman relawannya mempersiapkan mahar dan segalanya untuk Reem, yang sedang menunggu di tenda pengungsian lalinnya.

Rombongan pengantin pria diiringi dengan tank dan ambulan menuju tempat acara. Lalu tiba-tiba terdengar bom meledak. Zionis Israel menjatuhkan bom tepat pada rombongan pengantin laki-laki.

Kasim dan relawan lainnya meninggal.


Akhir cerita yang sangat sedih, bukan?
Kalau mau lebih seru lagi, baca aja ceritanya. Dijamin seru. 


Tanjungpura, 30 Juli 2019

0 Response to "REEM [BOOK REVIEW]"

Post a Comment

silahkan beri masukan dan tambahan untuk saling berbagi kebaikan.
Jazakumullah khair...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel