KISAH PENEBUSAN NAZAR KAKEK RASULULLAH; ABDUL MUTTHALIB

  • PENGGALIAN SUMUR ZAMZAM
Kisah Abdullah bermula pada saat ayah Abdullah merasa resah. Ayahnya resah, ketika Abdullah mendapat amanah untuk mengurus tugas-tugas di tanah Haram. Ia mengurusi jamaah haji yang pada saat itu sedang mengalami kesulitan air.

Teringat olehnya tentang sumur Zamzam yang menyelamatkan kakenya, Ismail dari kematian, dan mendatangkan berbagai kafilah ke Mekah. Lalu Abdul Mutthalib berkeinginan untuk menemukan sumur Zamzam tersebut.

Keinginan itu pun semakin kuat. Setelah merenung siang dan malam, akhirnya ia mendapatkan petunjuk melalui mimpi untuk menggali di tempat tertentu di tanah Haram.

Abdul Mutthalib berkata, “Suatu ketika aku tidur di Hijir. Tanpa diduga ada yang datang kepadaku lalu berkata, “Galilah Zamzam, karena jika kau menggalinya, kau tidak akan menyesal. Sumur itu adalah warisan ayahmu yang paling agung. Airnya tidak akan pernah habis dan kau tidak akan dicela. Kau akan memberikan minum kepada jamaah haji yang sangat banyak seperti kumpulan unta-unta pasukan yang belum dibagi-bagikan.”

Ia pun mengikuti petunjuk mimpinya tersebut, dengan membawa cangkul bersama anaknya, Al-Harits, yang saat itu ia tidak memiliki anak lain selainnya. Saat Abdul Mutthalib hendak menggali di antara berhala Asaf dan Nailah, orang-orang Quraisy mencegahnya seraya berkata, “Demi Allah kami tidak akan membiarkanmu menghancurkan berhala ini yang kami menyembelih hewan kurban di dekatnya.”

Kemudian Abdul Mutthalib berkata kepada anaknya, Al-Harits, “Lindungilah aku agar aku bisa menggali. Karena demi Allah aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku.”
Ia tetap menggali meskipun orang-orang Quraisy menentangnya. Ketika galiannya sampai pada batu yang menutupi sumur tersebut, Abdul Mutthalib bertakbir dengan kencang agar para orang-orang Quraisy itu mengetahuinya. Mereka menghampiri Abdul Mutthalib dan berkata, “Hai Abdul Mutthalib! Sumur itu milik ayah kami, Ismail, kami punya hak atas sumur itu, maka sertakanlah kami atas kepemilikannya.”

“Tidak. Urusan sumur ini khusus untukku saja, bukan untuk kalian. Dan hanya diberikan kepadaku, bukan kalian.”
Ucap Abdul Mutthalib.

“Berlakulah adil terhadap kami karena kami tidak akan membiarkanmu hingga memperkarakanmu tentang sumur ini.”
Lalu Abdul Mutthalib memutuskan untuk melakukan undian dengan anak panah.

Pada akirnya, undian anak panah tersebut dimenangkan oleh Adul Mutthalib. Sejak saat itu ia memegang wewenang distribusi air Zamzam untuk para jamaah haji, tanpa disaingi oleh siapa pun dari kaum Quraisy mana pun.
  • NAZAR SANG AYAH
Abdul Mutthalib mengutarakan nazarnya, ketika ia sibuk menggali sumur Zamzam. Ia tidak punya anak selain Al-Harits, dan saat itu ia menghadapi penghadangan kaum Quraisy. Akhirnya pada saat itu ia bernazar, jika ia punya sepuluh anak yang bisa melindunginya, ia akan menyembelih salah satu di antara mekera di dekat Ka’bah.

Selang beberapa waktu, hal itu terjadi. Abdul Mutthalib memiliki sepuluh orang anak dan Abdullah anak bungsunya.

Pada suatu pagi di bulan Jumadil Ula, sekitar 41tahun seblum kenabian, Abdul Mutthalib berangkat besama sepuluh anaknya menuju Ka’bah, dan masing-masing diantara mereka sudah membawa anak panah yang tertulis namanya seraya bersiap diri untuk menerimma nasib yang telah ditentukan.

Ketika berita itu tersiar, semua kaum wanita kaum Quraisy menaruh iba kepada anak-anak Abdul Mutthalib. Bahkan tidak sedikit di antara mereka ikut menyaksikan kejadian itu. Namun, tidak dengan Aminah. Ia tetap berada di dalam kamarnya dengan hati yang penuh kegelisahan dan kasihan.

Dan pada akhirnya, Ka’bah memilih Abdullah untuk disembelih. Mendengar hal itu, Aminah terkejut dan sedih, dan seluruh penduduk Mekah bersedih atas pilihan tersebut. Karena Abdullah adalah kesayangan Abdul Mutthalib, serta pemuda terbaik Mekah.

Namun, hal itu dicegah oleh Al-Mughirah bin Abdullah Al-Makhzumi, keluarga dari ibu Abdullah berkata, “Demi Allah, jangan kau sembelih anakmu ini yang pasti akan membuatmu dicela. Jika memang dia bisa ditebus dengan harta benda kami, biarkan kami menebusnya.”

Lalu para tetua kaum Quraisy menyarankan, “Bawalah anakmu ini pergi menemui seorang peramal wanita di Khaibar, dia itu punya pengikut. Setelah itu, kita tanyakan kepadanya; jika ia memerintahkanmu menyembelih anakmu, silahkan kau sembelih. Namun, jika memerintahkan hal lain kepadamu dan perintah itu memeberikan jalan keluar dari situasi ini, maka terimalah perintahnya.”

Abdul Mutthalib akhirnya menuruti semua saran mereka dan melaksanakan sesuai perintah. Setelah itu, para rombongan kaum Quraisy melakukan perjalanan selama 20 hari menuju tempat peramal wanita tersebut. Sampai ditujuan, peramal wanita itu berkata, “Kembalilah ke negeri kalian, lalu korbankan sepuluh ekor unta, lalu buatlah undian untuk keduanya dengan anak panah. Jika undian yang keluar adalah kawan kalian, maka tambahilah sepuluh ekor unta lagi. Dan begitu seterusnya, sampai Rabb kalian meridhai kalian. Dan jika undian yang keluar adalah unta, maka sembelihlah unta-unta itu sebagai gantinya, karena Rabb kalian sudah ridha dan sahabat kalian selamat.”
Saran itu pun dilakukan. Abdul Mutthalib membuat undian antara anaknya, Abdullah dan 10 ekor unta, dan setiap anak panah itu menunjuk ke arah Abdullah, ia menambahkan 10 ekor unta lagi, begitulah terus menerus, hingga penambahan 10 kali, kini unta telah mencapai 100 ekor. Dan anak panah akhirnya menunjuk ke arah 100 ekor unta tersebut.

Kini Abdullah terselamatkan dengan penebusan 100 ekor unta atas nazar ayahnya, Abdul Mutthalib.

0 Response to "KISAH PENEBUSAN NAZAR KAKEK RASULULLAH; ABDUL MUTTHALIB"

Post a Comment

silahkan beri masukan dan tambahan untuk saling berbagi kebaikan.
Jazakumullah khair...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel