KITA BERTEMU –SPECIAL DAY PATR 3

Setelah kejadian itu, mereka minta maaf, terutama dia. Dan semenjak itu kami mulai akrab.

Akhir tahun 2018, kami mulai bertegur sapa kembali via WA. Entah kenapa, dia selalu menanyakan kapan saya balik kampung (posisi saya pada saat itu masih di negeri jiran). Dia lebih sering menanyakan kapan saya kembali. Dan saya tidak menangkap maksud dibalik pertanyaannya. 

Singkat cerita, saya melontarkan kata, “Aku pulang kalo ada yang melamar aku. Kalo dah terikat, kan gak kemana-mana lagi.” Setelah saya mengirim pesan itu, saya pun berpikir,kenapa saya bilang begitu, ya, batin saya. 

Dan setelah itu pula, dia menanyakan hal-hal yang mengarah ke hubungan yang serius. Bisa dikatakan, saya mulai menaruh curiga dengan pesannya, ada pertanyaan yang tak lazim dari seorang teman. 

Sebenarnya, sebelum kami mulai akrab. Ada makcomblang (perantara) di balik layar dari suksesnya ini semua. Makcomblang yang selalu keppo, dan niat banget menjodohkan kami. Dia adalah AX. Melalui kata-katanya, saya seperti menangkap maksud si Bapak itu (calon saya). 

Lalu, dia mengutarakan keinginannya untuk datang ke rumah saya. Awalnya saya tidak percaya, sebab saya memang tidak ada di rumah, jadi saya berpikir, pasti bercanda, mana mungkin datang ke rumah teman, kalau orang yang didatangi tidak ada di tempat. Lalu, saya meng-iya-kan, tapi dalam hati sambil berkata, pasti mereka tidak berani. 

Eh, ternyata kali ini mereka serius. Mereka datang saat Syawal ke 4. Sebelum mereka datang, saya sudah bercerita kepada Mama, dan Mama saya juga tidak yakin akan ada yang datang. Jadi, saat mereka datang, tanpa persiapan apa-apa di rumah. Begitu kata Mama bercerita via telpon setelah pertemuan itu. 

Terharu...! sungguh, saat dia mengatakan ingin meng-khitbah saya, melalui WA. 

Padahal, kami terpisahkan oleh jarak yang sangat jauh (Malaysia – Aceh). Tidak pernah bertanya kabar, bertanya ‘lagi ngapain’, tidak pernah memberi perhatian, jarang chatting-an (sesering saya pada teman yang lain -dulu). Dan dia tak pernah meminta Video Call seperti cowok yang saya kenal, juga untuk menelpon pun, tidak pernah. Hingga detik dia, mengucapkan akad. 

Dia beda. Dari teman yang dekat dengan saya. Dia, tidak banyak bicara, tidak pernah kasi perhatian, tidak pernah menunjukkan kalau dia ada rasa. Kalau mereka yang biasa; “udah makan”, “jangan lupa sholat”, “lagi apa”. Ah, itu hal yang paling saya benci. PHP (Pemberi Harapan Palsu). Meski semua itu saya jawab juga, hehehe. Tapi mereka itu bukan yang saya mau. 

Dan yang membuat saya suka adalah, dia jarang WA kalau tidak ada yang penting untuk dibahas (hingga saat akad terjadi, kami juga jarang WA,an) hanya untuk membahas yang terpenting saja. 

Nah, ini tipe terakhir yang saya mau, cowok yang tidak suka nge-chat (basa-basi). Pola pikir saya berubah. Iya, setelah beberapa tahun lalu saya mengenal NADIA (setelah dia menasehati saya, “Sebenarnya, hafalan ko bisa lebih banyak, apalagi kalau ko menghindari chat’an orang yang gak penting. Ingat, Al-Qur’an tidak bisa dicampur adukkan dengan yang bathil.”) teman[1] penyemangat saya. Ah, dia memang bisa banget buat saya meresa bersalah.[2]

Berkomunikasi dengan cowok memang saya batasi. Saya tidak akan pernah nge-chat duluan kalau tidak ada yang penting. Atau tidak pernah sama sekali duluan nge-chat cowok. Lalu, dari situ, saya tidak suka dengan mereka yang terlalu basa-basi nge-chat hal-hal yang tak penting. 

Dan Allah hadirkan dia yang cuek. Tapi semoga, nanti dia tidak irit-irit banget ngomongnya, kalau sudah halal. Heheee.... 

Akhir cerita ini, Allah menghadirkan seseorang yang benar-benar tidak pernah saya duga. seseorang yang Allah Tahu, apa yang saya cari/ inginkan. Kadang, saya sempat berpikir, kenapa ya, dia memilih saya diantara ribuan wanita cantik diluar sana. Padahal, dia tidak pernah lihat saya setelah pertemuan kami di acara walimah’an teman kami (sekitar 2 atau 3 tahun lalu). Kenapa dia bisa yakin melamar saya, yang belum ia lihat kondisi saya sekarang. Ada rasa sedikit tidak yakin dan ingin membatalkannya saat itu. 

Namun, karena merasa semua hal yang kami rencanakan, dipermudahkan oleh Allah. Jadi saya yakin, ini adalah jawaban atas istikhoroh saya. Pun jika memang kami tidak berjodoh, insya Allah saya terima, karena memang merupakan bagian dari do’a saya juga, kan. 




****************bersambung************** 

Proses khitbah menuju akad nikah.


Tanjung Beringin, 26 September 2019. 




[1] Dan dia blg, “kalo ko bisa stop sosmed, hafalanmu juga lebih lancar dan banyak. Karena aku tahu, ko punya potensi kuat di sini.” 
[2] Pertemanan kami yang bermula saat di Pondok Qur’an BMC, 2016 kalau tidak salah.

0 Response to "KITA BERTEMU –SPECIAL DAY PATR 3"

Post a Comment

silahkan memberikan masukan dan tanggapan yang sopan ya guys

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel